MAKALAH HEMOSTASIS (CAROLIN RUHUKAIL B1D119016) TUGAS HEMATOLOGI II 2019A
TUGAS HEMATOLOGI II
(MAKALAH HEMOSTASIS)
OLEH :
NAMA :
CAROLIN RUHUKAIL
NIM :
B1 D1 19 016
KELAS : 2019 A
PROGRAM STUDI DIV TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
FAKULTAS TEKNOLOGI KESEHATAN
UNIVERSITAS MEGAREZKY
MAKASSAR
2020
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Hemostasis berasal
dari bahasa Yunani, haeme berarti darah dan statis berarti berhenti. Dapat
diartikan sebagai fungsi tubuh untuk mempertahankan keenceran darah sehingga
darah tetap mengalir dalam pembuluh darah dan menutup kerusakan dinding pembuluh
darah sehingga dapat mengurangi kehilangan darah saat terjadi kerusakan
(Harlivasari dan Syahrudin, 2019)
Hemostasis
merupakan proses tubuh untuk menghentikan kehilangan darah saat terjadi trauma
jaringan. Proses ini melibatkan sejumlah faktor diantaranya vaskular,
trombosit, faktor koagulasi, fibrinolisis dan inhibitornya. Hemostasis juga
berperan utnuk menjaga keseimbangan antara trombosis dan perdarahan
(Donaliazarti,2018)
Hemostasis
merupakan proses yang dinamis melalui mekanisme tertentu yang cepat dan rumit.
Sistem hemostais merupakan mekanisme protektif yang sangat penting yang
bertanggung jawab dalam mencegah kehilangan darah dengan menutupi lokasi cedera
di sistem pembuluh darah. Hemostasis juga harus dipantau, sehingga darah tidak
mengalami koagulasi didalam pembuluh darah dan mempertahankan aliran darah
tetap normal (Kurniawan dan Arif, 2013).
Hemostasis adalah
kemampuan alami untuk menghentikan perdarahan pada lokasi luka oleh spasme
pembuluh darah, adhesi trombosit dan keterlibatan aktif faktor koagulasi,
adanya koordinasi dari endotel pembuluh darah, agregasi trombosit dan aktifasi
jalur koagulasi. Fungsi utama mekanisme hemostasis ini adalah menjaga keenceran
darah (blood fluidity) sehingga darah dapat mengalir dalam sirkulasi dengan
baik, serta membentuk trombus sementara atau hemostatic thrombus pada dinding
pembuluh darah yang mengalai kerusakan (vascular injury) (Durachim dan Astuti,
2018).
B.
Rumusan
Masalah
Adapun rumusan
masalah pada makalah kali ini, yaitu:
- Apa yang dimaksud dengan hemostasis?
- Apa fungsi dari proses hemostasis?
- Bagaimana tahapan dalam hemostasis?
- Apa
saja komponen-komponen pada hemostasis?
- Apa saja faktor-faktor pembekuan darah?
- Bagaiman lintasan/ jalur-jalur hemostasis?
C.
Tujuan
Adapun tujuan
pada makalah kali ini, yaitu:
- Untuk mengetahui pengertian hemostasis
- Untuk mengetahui fungsi hemostasis
- Untuk
mengetahui tahapan dalam hemostasis
- Untuk
mengetahui komponen-komponen hemostasis
- Untuk
mengetahui faktor-faktor pembekuan darah
- Untuk mengetahui lintasan/ jalur-jalur hemostasis
BAB II
TINJAUAN PUSTAKAN
A.
Pengertian
Hemostasis
Hemostasis (haima=
darah, stasis= tetap, berhenti), berarti darah tetap berada dalam system
pembuluh darah. Hemostasis merupakan mekanisme normal yang dilakukan oleh tubuh
untuk menghentikan keluarnya darah yang diperankan oleh spesme pembuluh darah,
adhesi, agregasi trombosit dan keterlibatan aktif faktor koagulasi. Terdapat
beberapa komponen dalam mekanisme hemostasis, yaitu: trombosit, endotel
vaskuler, procoagulant plasma protein faktor, natural anticoagulant proteins,
protein fibrinolitik dan protein antifibrinolitik. Semua komponen ini harus
tersedia dalam jumlah yang cukup, dengan fungsi yang baik serta tempat yang
tepat untuk dapat menjalankan mekanisme hemostasis dengan baik (Durachim dan
Astuti, 2018)
Hemostasis
merupakan proses penghentian perdarahan secara spontan dari pembuluh darah yang
mengalami kerusakan atau akibat putusnya atau robeknya pembuluh darah,
sedangkan thrombosis terjadi apabila endothelium yang melapisi pembuluh darah
rusak atau hilang. Proses hemostasis ini mencangkup pembekuan darah (koagulasi)
dan melibatkan pembuluh darah, agredasi trombosit serta protein plasma baik
yang menyebabkan yang menyebabkan pembekuan maupun yang melarutkan pembekuan
(Durachim dan Astuti, 2018)
B.
Fungsi
Hemostasis
Fungsi utama mekanisme hemostasis ini adalah menjaga keenceran darah (blood fluidity) sehingga darah dapat mengalir dalam sirkulasi dengan baik, serta membentuk trombus sementara atau hemostatic thrombus pada dinding pembuluh darah yang mengalai kerusakan (vascular injury) (Durachim dan Astuti, 2018).
C.
Tahapan
dalam Hemostasis
Menurut Durachim dan Astuti (2018), Hemostasis terdiri
dari tiga tahapan yaitu:
- Hemostasis primer terdiri dari pembuluh darah dan trombosit, disebut hemostasis primer karena pertama terlibat dalam proses penghentian darah bila terjadi perdarahan, diawali dengan vasokontriksi pembuluh darah dan pembentukan pak trombosit yang menutup luka dan menghentikan perdaahan.
Saat pembuluh darah rusak dan kehilangan keutuhan dindingnya, interaksi antara platelet dan dinding pembuluh darah berubah dan memicu perlekatan platelet pada struktur pos intima yang terpapar. Platelet yang melekat tersebut menghasilkan ADP (adenosine diphosphate) dan juga menyebabkan platelet –platelet lain menghasilkan ADP menyebabkan mereka berkumpul membentuk agregat dan akhirnya membentuk sumbat platelet (platelet plug). Sumbatan platelet ini hanya mampu menutup perdarahan sementara waktu dan harus diperkuat lagi oleh proses lebih lanjut yaitu pembentukan bekuan darah (clot) yang akan memperkokoh penutupan kerusakan pembuluh darah
2. Hemostasis sekunder terdiri dari faktor pembekuan dan anti pembekuan, yang akhir dari mekanisme hemostasis sekunder adalah terbentuknya benang fibrin. Jika terjadi luka yang besar pada pembuluh darah atau jaringan lain, vasokonstriksi dan sumbat trombosit belu cukup untuk mengkompensasi luka ini. Maka, terjadinta hemostasis sekunder yang melibatkan trombosit dan faktor koagulasi. Hemostasis sekunder ini mencangkup pembentukan jaring-jaring fibrin. Hemostasis sekunder ini bersifat delayed dan long-term response. Kalau proses ini sudah cukup untuk menutup luka, maka proses berlanjut ke hemostasis tersier.
3. Hemostasis tersier yaitu mekanisme hemostasis lanjut yang diperankan oleh darah, dimana bekuan atau hemostatic plug yang sudah terbentuk akan dihancurkan dalam sistem fibrinolysis. System fibrinolisis akan diaktifkan untuk melakukan penghancuran fibrin yang sudah terbentuk agar tidak menjadi penghalang aliran darah dan menyebabkan lisis dari fibrin dan endotel menjadi untuh kembali. Hemostasis tersier bertujuan untuk mengotrol agar aktivitas koagulasi tidak berlebihan.
D. Komponen-Komponen Hemostasis
- Spasme Vaskuler (penyempitan pembuluh darah)
Ketika pembuuh pecah atau tertusuk atau ketika dinding pembuluh rusak, spasme pebuluh darah terjadi. Pada spasme pembuluh darah, otot polos di dinding pembuluh berkontraksi secara dramatis, respon spasme vaskular diyakini dipicu oleh beberapa bahan kimia yang disebut endotelin yang dilepas oleh sel-sel lapisan pembuluh dan oleh reseptor rasa sakit sebagai respons terhadap cedera pembuluh, biasanya berlangsung hingga 30 menit, meskipun bisa berlangsung berjam-jam (Doda, 2020).
2. Pembentukan sumbatan trombosit
Pada langkah kedua, trombosit yang biasanya mengapung bebas dalam plasma, menemukan area pecahnya pembuluh darah dengan jaringan ikat yang mendasari dan serat kolagen. Trombosit mulai menggumpal, menjadi berduri dan lengket dan berikatan dengan kolagen yang terbuka dan lapisan endotel . proses ini dibantu oleh glikoprotein dalam plasma darah yang disebut faktor von Willebrand, yang membantu menstabilkan sumbat trombosit yang sedang tumbuh. Saat trombosit terkumpul, mereka secara bersamaan melepaskan bahan kimia dari sel mereka ke dalam plasma yang selanjutnya berkontribusi pada hemostasis. Zat yang dikeluarkan oleh trombosit adalah:
-
Adenosine
diphosphate (ADP), yang membantu trombosit tambahan untuk melekat pada tempat
cedera, memperkuat dan memperluas sumbat trombosit.
-
Serotonin,
yang mempertahankan vasokonstriksi.
-
Prostaglandin
dan fosfolipid, yang juga mempertahankan vasokonstriksi dan membantu
mengaktifkan bahan kimia pembekuan lebih lanjut.
Sumbatan trombosit
untuk sementara dapat menutup lubang kecil dipembuluh darah, sementara
perbaikan yang lebih canggih dan tahan lama sedang dilakukan (Doda, 2020).
3. Pembekuan darah
Perbaikan yang lebih canggih dan lebih tahan lama secara kolektif disebut koagulasi, pembentukan gumpalanatau bekuan darah. Proses ini ditandai biasa disebut sebagai kaskade, karena satu peristiwa mendorong peristiwa berikutnya. Hasilnya adalah produksi gumpalan seperti agar-agar tetapi kuat yang terbuat dari jaringan fibrin suatu protein berfilamen tak larut yang berasal dari fibrinogen, protein plasma yang diperkenalkan sebelumnya dimana trombosit dan sel darah terperangkap (Doda, 2020).
A. Faktor-faktor Pembekuan
Menurut Durachim dan Astuti (2018). Untuk menghentikan terjadinya perdarahan selain diperankan oleh vaskuler dan trombosit, faktor-faktor pembekuan darah memegang peran yang sangat penting untuk menutup luka. Terdapat tiga belas faktor pembekuan didalam tubuh manusia diantaranya, yaitu:
- Faktor I (Fibrinogen)
Fibrinogen merupakan salah satu pembekuan darah atau koagulasi yang melibatkan protein plasma sehingga dapat berubah menjadi benang fibrin melalui proses yang diperankan oleh trombin. Berfungsi sebagai komponen penting dalam protein plasma hasil dari sintesis dalam hati dan diubah menjadi fibrin
2. Faktor II (Prothombin)
Prothombin merupakan salah satu pembekuan darah atau koagulasi yang melibatkan protein plasma sehingga dapat merubah menjadi senyawa aktif trombin (faktor IIa) melalui proses pembelahan yang mengaktifkan salah satu faktor yaitu X (Xa) yang berada di jalur umum dari proses pembekuan.
3. Faktor III (Thromboplastin, Tissue Thromboplastin)
Factor III atau thromboplastin jaringan berperan sebagai aktivasi faktor VII untuk membentuk trombin.Jaringan Tromboplastin koagulasi faktor yang berasal dari beberapa sumber yang berbeda dalam tubuh, seperti otak dan paru-paru.
4. Faktor IV (Ion Calcium)
Factor IV atau ion kalsium adalah sejenis ion yang
fungsinya digunakan disemua proses pembekuan darah pada setiap jalur
pembekuan.Kalsium ini merupakan sebuah faktor koagulasi yang diperlukan dalam
fase pembekuan darah jalur pembekuan intrinsic, jalur pembekuan ekstrinsik dan
pada jalur pembekuan bersama dan berbentuk ion yang setiap saat akan mudah
berikatan dengan bentuk ion yang lain.
5. Faktor V (Proakselerin, Labil Factor)
Factor pembekuan faktor V atau Proaccelerin merupakan salah satu faktor pembekuan darah atau koagulasi dalam menyimpan panas, yang ada didalam plasma, memiliki fungsi intrinsik dan ekstrinsik yang berada di dalam jalur koagulasi.
6. Faktor VI (unknown).
Factor pembekuan faktor VI atau faktor yang belum diketahui (unknown), Faktor ini sudah tidak dipakai lagi karena fungsinya sama seperti faktor V.Sebuah faktor koagulasi sebelumnya dianggap suatu bentuk aktif faktor V, tetapi tidak lagi dianggap dalam skema hemostasis.
7. Faktor VII (Prokonvertin, Stabil Factor)
Factor pembekuan faktor VII atau prokonvertin berfungsi sebagai sistem yang bekerja di dalam jalur intrinsik.Proconvertin ini merupakan sebuah faktor koagulasi penyimpanan yang relatif stabildan panas dan berpartisipasi dalam Jalur koagulasi ekstrinsik.
8. Faktor VIII (Faktor Antihemophilia, Anti Hemophilic Globulin)
Factor pembekuan faktor VIII atau antihemophilic faktor, faktor antihemofilia A, globulin antihemofilia/ AHG). berfungsi sebagai sistem ekstrinsik.Antihemophilic faktor, sebuah faktor koagulasi penyimpanan yang relatif labil dan berpartisipasi dalam jalur intrinsik dari koagulasi, bertindak (dalam konser dengan faktor von Willebrand) sebagai kofaktor dalam aktivasi faktor X.
9. Faktor IX (Komponen Tromboplastik Plasma, Chrismas Factor)
Factor pembekuan faktor IX atau Krismas faktor berfungsi sebagai sistem ekstrinsik.Tromboplastin Plasma komponen, sebuah faktor koagulasi penyimpanan yang relatif stabil dan terlibat dalam jalur intrinsik dari pembekuan.
10. Faktor X (faktor stuart-prower)
Factor pembekuan faktor X atau Stuart faktor berfungsi sebagai sistem intrinstik dan ekstrinsik.Stuart faktor, sebuah faktor koagulasi penyimpanan yang relatif stabil dan berpartisipasi dalam baik intrinsik dan ekstrinsik jalur koagulasi, menyatukan mereka untuk memulai jalur umum dari pembekuan.
11. Faktor XI (Plasma Thromboplastin Antecedantfaktor antihemofilia C)
Factor pembekuan faktor XI atau plasma
Thromboplastin Antecedant atau antihemophilic C berfungsi sebagai sistem
intrinsik.Tromboplastin plasma yang di atas, faktor koagulasi yang stabil yang
terlibat dalam jalur intrinsik dari koagulasi; sekali diaktifkan, itu
mengaktifkan faktor IX.
12. Faktor XII (Faktor Hageman, Contack faktor)
Factor pembekuan faktor XII atau Hageman faktor berfungsi sebagai sistem intrinsik.Hageman faktor faktor koagulasi yang stabil yang diaktifkan oleh kontak dengan kaca atau permukaan asing lainnya dan memulai jalur intrinsik dari koagulasi dengan mengaktifkan faktor XI. Kekurangan faktor ini menghasilkan kecenderungan trombosis.
13. Faktor XIII (Faktor Stabilisasi Fibrin, Fibrinase)
Factor pembekuan faktor XIII atau yang disebut faktor stabilisasi fibrin atau fibrinasi berfungsi sebagai penghubung silang filamen fibril.Fibrin-faktor yang menstabilkan, sebuah faktor koagulasi yang merubah fibrin monomer untuk polimer sehingga mereka menjadi stabil dan tidak larut di dalm, fibrin yang memungkinkan untuk membentuk pembekuan darah.
F. Lintasan/ Jalur-Jalur Hemostasis
1. Lintasan / jalur intrinsic (Intrinsic pathways)
Mekanisme Lintasan jalur intrinsik melibatkan faktor
XII, XI, IX, VIII dan X di sampingprekalikrein, kininogen dengan berat molekul
tinggi, ion Ca2+ dan fosfolipid trombosit. Lintasan ini membentuk faktor Xa (aktif).Lintasan
ini dimulai dengan “fase kontak” dengan prekalikrein, kininogen dengan berat
molekul tinggi, faktor XII dan XI terpajan pada permukaan pengaktif yang
bermuatan negative. Secara in vivo, kemungkinan protein tersebut teraktif pada
permukaan sel endotel. Kalau komponen dalam fase kontak terakit pada permukaan
pengaktif, faktor XII akan diaktifkan menjadi faktor XIIa pada saat proteolisis
oleh kalikrein. Factor XIIa ini akan menyerang prekalikrein untuk menghasilkan
lebih banyak kalikrein lagi dengan menimbulkan aktivasi timbale balik. Begitu
terbentuk, faktorXIIa mengaktifkan faktor XI menjadi Xia, dan juga melepaskan
bradikinin(vasodilator) dari kininogen dengan berat molekul tinggi.Factor XIa
dengan adanya ion Ca2+ mengaktifkan faktor IX, menjadi enzim serin protease,
yaitu faktor IXa. Factor ini selanjutnya memutuskan ikatan Arg-Ile dalam faktor
X untuk menghasilkan serin protease 2-rantai, yaitu faktor Xa. Reaksi yang
belakangan ini memerlukan perakitan komponen, yang dinamakan kompleks tenase,
pada permukaan trombosit aktif, yakni: Ca2+ dan faktor IXa dan faktor X. Semua
reaksi dalam hemostasis yang melibatkan zimogen yang mengandung Gla (faktor II,
VII, IX dan X), residu Gla dalam region terminal amino pada molekul tersebut
berfungsi sebagai tempat pengikatan berafinitas tinggi untuk Ca2+. Bagi
perakitan kompleks tenase, trombosit pertama-tama harus diaktifkan untuk
membuka fosfolipid asidik (anionic). Fosfatidil serin dan fosfatoidil inositol
yang normalnya terdapat pada sisi keadaan tidak bekerja. Factor VIII, suatu
glikoprotein, bukan merupakan precursor protease, tetapi kofaktor yang
berfungsi sebagai reseptor untuk faktor IXa dan X pada permukaan trombosit.
Factor VIII diaktifkan oleh thrombin dengan jumlah yang sangat kecil hingga
terbentuk faktor VIIIa, yang selanjutnya diinaktifkan oleh thrombin dalam
proses pemecahan lebih lanjut
(Durachim dan Astuti 2018).
2. Lintasan / jalur Ekstrinsik (extrinsic Pathways)
Mekanisme lintasan jalur ekstrinsik melibatkan
faktor jaringan, faktor VII,X serta Ca2+ dan menghasilkan faktor Xa. Produksi
faktor Xa dimulai pada tempat cedera jaringan dengan ekspresi faktor jaringan
pada sel endotel. Factor jaringan berinteraksi dengan faktor VII dan
mengaktifkannya; faktor VII merupakan glikoprotein yang mengandung Gla, beredar
dalam darah dan disintesis di hati. Factor jaringan bekerja sebagai kofaktor
untuk faktor VIIa dengan menggalakkan aktivitas enzimatik untuk mengaktifkan
faktor X. faktor VII memutuskan ikatan Arg-Ile yang sama dalam faktor X yang
dipotong oleh kompleks tenase pada lintasan intrinsic. Aktivasi faktor X
menciptakan hubungan yang penting antara lintasan intrinsic dan
ekstrinsik.Interaksi yang penting lainnya antara lintasan ekstrinsik dan
intrinsic adalah bahwa kompleks faktor jaringan dengan faktor VIIa juga
mengaktifkan faktor IX dalam lintasan intrinsic. Sebenarna, pembentukan
kompleks antara faktor jaringan dan faktor VIIa kini dianggap sebagai proses
penting yang terlibat dalam memulai pembekuan darah secara in vivo. Makna
fisiologik tahap awal lintasan intrinsic, yang turut melibatkan faktor XII,
prekalikrein dan kininogen dengan berat molekul besar. Sebenarnya lintasan
intrinsik bisa lebih penting dari fibrinolisis dibandingkan dalam koagulasi,
karena kalikrein, faktor XIIa dan Xia dapat memotong plasminogen, dan kalikrein
dapat mengaktifkanurokinase rantai-tunggal.Inhibitor lintasan faktor jaringan
(TFPI: tissue faktor fatway inhibitior) merupakan inhibitor fisiologik utama
yang menghambat koagulasi. Inhibitor ini berupa protein yang beredar didalam
darah dan terikat lipoprotein. TFPI menghambat langsung faktor Xa dengan
terikat pada enzim tersebut disekitar area aktifnya. Kemudian kompleks faktor
Xa-TFPI ini manghambat kompleks faktor VIIa-faktor jaringan (Durachim dan Astuti 2018).
3. Lintasan / jalur Bersama (common pathways)
Pada lintasan / jalur bersama yang sama, faktor Xa
yang dihasilkan oleh lintasan intrinsic dan ekstrinsik, akan mengaktifkan
protrombin(II) menjadi thrombin (IIa) yang kemudian mengubah fibrinogen menjadi
fibrin. Pengaktifan protrombin terjadi pada permukaan trombosit aktif dan
memerlukan perakitan kompelks protrombinase yang terdiri atas fosfolipid
anionic platelet, Ca2+, faktor Va, faktor Xa dan protrombin (Durachim dan Astuti 2018).
Factor V yang disintesis dihati, limpa serta ginjal
dan ditemukan didalam trombosit serta plasma berfungsi sebagai kofaktor dng
kerja mirip faktor VIII dalam kompleks tenase. Ketika aktif menjadi Va oleh
sejumlah kecil thrombin, unsure ini terikat dengan reseptor spesifik pada membrane
trombosit dan membentuk suatu kompleks dengan faktor Xa serta protrombin.
Selanjutnya kompleks ini diinaktifkan oleh kerja thrombin lebih lanjut, dengan
demikian akan menghasilkan sarana untuk membatasi pengaktifan protrombin
menjadi thrombin. Protrombin (72 kDa) merupakan glikoprotein rantai-tunggal
yang disintesis di hati. Region terminal-amino pada protrombin mengandung
sepeuluh residu Gla, dan tempat protease aktif yang bergantung pada serin
berada dalam region-terminalkarboksil molekul tersebut. Setelah terikat dengan
kompleks faktor Va serta Xa pada membrane trombosit, protrombin dipecah oleh
faktor Xa pada dua area aktif untuk menghasilkan molekul thrombin dua rantai
yang aktif, yang kemudian dilepas dari permukaan trombosit. Rantai A dan B pada
thrombin disatukan oleh ikatan disulfide (Durachim dan Astuti 2018).
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1. Hemostasis (haima= darah, stasis= tetap, berhenti), berarti darah tetap berada dalam system pembuluh darah. Hemostasis merupakan proses penghentian perdarahan secara spontan dari pembuluh darah yang mengalami kerusakan atau akibat putusnya atau robeknya pembuluh darah,
2. Fungsi utama mekanisme hemostasis ini adalah menjaga keenceran darah (blood fluidity) sehingga darah dapat mengalir dalam sirkulasi dengan baik, serta membentuk trombus sementara atau hemostatic thrombus pada dinding pembuluh darah yang mengalai kerusakan (vascular injury) (Durachim dan Astuti, 2018).
3. Hemostasis terdiri dari tiga tahapan yaitu: Hemostasis primer terdiri dari pembuluh darah dan trombosit, disebut hemostasis primer karena pertama terlibat dalam proses penghentian darah. Hemostasis sekunder terdiri dari faktor pembekuan dan anti pembekuan, yang akhir dari mekanisme hemostasis sekunder adalah terbentuknya benang fibrin. Hemostasis tersier yaitu mekanisme hemostasis lanjut yang diperankan oleh darah, dimana bekuan atau hemostatic plug yang sudah terbentuk akan dihancurkan dalam sistem fibrinolysis.
4. Komponen-Komponen Hemostasis terdiri dari: Spasme Vaskuler (penyempitan pembuluh darah), pembentukan sumbatan trombosit dan Pembekuan darah.
5. Faktor-faktor pembekuan darah memegang peran yang sangat penting untuk menutup luka. Terdapat tiga belas faktor pembekuan didalam tubuh manusia diantaranya, yaitu: Faktor I (Fibrinogen), Faktor II (Prothombin), Faktor III (Thromboplastin, Tissue Thromboplastin), Faktor IV (Ion Calcium), Faktor V (Proakselerin, Labil Factor), Faktor VI (unknown), Faktor VII (Prokonvertin, Stabil Factor), Faktor VIII (Faktor Antihemophilia, Anti Hemophilic Globulin), Faktor IX (Komponen Tromboplastik Plasma, Chrismas Factor), Faktor X (faktor stuart-prower), Faktor XI (Plasma Thromboplastin Antecedantfaktor antihemofilia C), Faktor XII (Faktor Hageman, Contack faktor), Faktor XIII (Faktor Stabilisasi Fibrin, Fibrinase).
6. Lintasan/ Jalur-Jalur Hemostasis terdiri dari: lintasan / jalur intrinsic (Intrinsic pathways), lintasan / jalur ekstrinsik (extrinsic Pathways), lintasan / jalur bersama (common pathways).
B.
Saran
Untuk kesempurnaan makalah ini maka saya sebagai penulis mengharapkan
komentar dan saran dari pembaca. Adapun kesalahan kata maupun materi yang
berlawanan dengan sumber lain saya mohon maaf.
DAFTAR PUSTAKA
Doda. Vanda D, Diana, dkk. 2020. Sistem Hematologi.
Yogyakarta: CV Budi Utama. Hal (41,42,43).
Donaliazarti. 2018. Pemeriksaan
Hemostasis secara Komprehensif dengan Tromboelastografi. Hal 2.
Durachim, Adang dan Astuti,
Dewi. 2018. Hemostasis. Jakarta Selatan: Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia. Hal (1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11).
Harlivasi. Dian, Anissa dan
Syahruddin, Elisna. 2019. Hiperkoagulasi pada Kanker Paru. Vol
39. No 2. Hal 131.
Kurniawan. Boy, Liong dan Arif,
Mansyur. 2013. Hemostasis Belandaskan Sel Hidup (IN VIVO). Vol 19. No 3. Hal
204.
Komentar
Posting Komentar